rqm 60x648

PILKADA DAN IDEOLOGI POLITIK

 Berita, Inspisasi, Slide
baznas60x468
Foto Istimewa: Mohsin Rofiey Notonegoro (Fungsionaris Majelis Daerah KAHMI Pamekasan)

Foto Istimewa: Mohsin Rofiey Notonegoro (Fungsionaris Majelis Daerah KAHMI Pamekasan)

Pada 27 Juni 2018 nanti Kabupaten Pamekasan akan menggelar Pilkada.  Bagi rakyat, pilkada adalah momentum para calon kepala daerah untuk mematut diri didepan cermin kekuasaan dan bisa menilai dirinya apakah mereka (para calon pemimpin) sudah pantas atau tidak untuk menjadi pemimpin.

Meminjam istilah Habemas (1985:15), pemimpin dalam era demokrasi tak bisa hanya mengandalkan kekuatannya pada kecakapan memelihara harapan, wacana, namun juga harus mampu memprediksi dan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang berdaya antisipatif terhadap kompleksitas tantangan yang dihadapi rakyat demi kesejahteraan utuh atau dalam bahasa kearifan lokalnya Jacob Sumardjo (2014): sehat, kaya, dan masuk surga.

Pilkada Pamekasan tidak akan pernah lepas dari peran Tokoh Masyarakat karena tinggginya kepercayaan masyarakat kepada tokoh masyarakat masih sangat dominan, untuk merebut hati masyarakat Pamekasan para calon pemimpin harus bisa merebut hati masyarakat sesuai dengan stratak baik secara sosial dan personal.

Kepunyaan publik (public domain) harus di jaga oleh para calon pemimpin menghindari black campaign dan negative campaign untuk menjaga stabilitas dan harmonisasi masyarakat kabupaten masyarakat.

Corak pikir dan serangan Black campaign dan negatif campaign (kampanya hitam dan kampanya negatif/tidak baik) seperti ini semestinya dinegasi dalam membangun suatu model pemilihan yang berkualitas, termasuk performa demokrasi lokal yang subtil. Karena, demokrasi bukanlah jalan pintas atau lampu aladin untuk mencapai kesejahteraan, namun untuk mengupayakan penegakan nilai demokrasi, membutuhkan daya ekstra merawat rasionalitas dan daya tahan mental rakyat yang kokoh dan tahan banting untuk tidak terpengaruh oleh permainan politik Laswellian (siapa mendapat apa, kapan dan bagaimana untuk mendapatkan keuntungan dari kelompok).

Vilfredo Pareto pemikir Italia  (1848-1923) mengatakan bahwa ideologi merupakan teknik politik untuk menggalang kekuatan.

Dengan pendidikan politik yang kontinyu dari kabupaten/kota, distrik hingga akar rumput, para calon pemimpin diharapkan akan memiliki konsep, pandangan, dan cita-cita politik, keislaman dan kebangsaan yang sebangun dengan nafas perjuangan masyarakat, terutama bagaimana membangun sikap politik dan pekerja politik calon dan masyarakat yang bermutu sesuai azas perjuangan bersama. Semoga bermanfaat.

***Penulis : MUHSIN ROFIEY NOTONOGORO (Fungsionaris MD KAHMI Pamekasan)

baznas60x468

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan