rqm 60x648

Dari Rumah Membangun Peradaban

 Inspisasi, Slide
baznas60x468

Hijapedia-Its-Your-Community-24

Ustadz Budi Ashari, Lc dalam kajiannya mengungkap pelajaran dari Q.S Al Ahzab 28-34, ayat-ayat yang dikhususkan untuk ummahatul mukminin. Menurutnya, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ummahatul mukminin adalah teladan tertinggi bagi setiap muslimah. Termasuk bagian yang harus diteladani adalah tentang aktivitas bagi wanita. Apalagi saat ini semakin tidak jelas perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Harus terus diingat bahwa laki-laki tidak sama dengan perempuan. Ada wilayah yang sama, namun ada yang berbeda. Musibah peradaban saat ini adalah saat melahirkan generasai “tanpa corak”. Generasi yang bingung dimulai dari orangtua yang bingung dengan perannya. Hingga “corak” yang anak miliki entah dari mana datangnya. Saat kedua orangtua meninggalkan rumah, siapa yang mendidik anak-anak di kesehariannya?

Dalam Surat AL Ahzab ayat 33 teks menyatakan, ”Menetaplah kalian di rumah-rumah kalian!” Ini perintah Allah. Inilah pondasi dasar. Bukan berarti harus selalu dikurung dalam rumahnya. Bukan bermakna perempuan tidak boleh memiliki keterampilan, tidak boleh punya lifeskill.

Ibunda Khadijah punya kemampuan berdagang yang istimewa. Saudagar di kancah Internasional. Punya kumpulan pedagang yang besar. Namun setelah menikah fokus pada rumah tangganya. Karena harus konsentrasi menjadi seorang istri dan ibu. Mari kita bayangkan betapa sibuknya seorang ibu yang memiliki  6 anak. Perniagaannya diserahkan kepada suaminya. Beliau berkarya sebaik-baiknya di rumah. Perempuan istimewa yang mendapatkan salam langsung dari Allah. Bahkan Allah membangun sebuah istana mutiara di surga untuknya. Surga untuk perempuan yang sangat memahami perannya.

Ustadz Budi mengungkapkan pula bahwa sebagian muslim saat ini tidak ridha dengan ayat. Akibatnya ketika disuguhi ayat maka langsung protes. Berbeda dengan generasi terbaik, mereka akan berupaya menjalankan sebaik-baiknya, kemudian bertanya bagaimana menjalankannya.

Profesi Istri-Istri Rasulullah

Adakah istri-istri Rasulullah yang memiliki pofesi lain di luar tugasnya sebagai ibu rumah tangga? Pertama, mari kita bahas ibunda kita, Zainab binti Zahsy. Imam Adz-Dzahabi (2015:249) menyebutnya, “… salah seorang pemimpin wanita di bidang agama, (memiliki) sifat wara’, kemurahan hati, dan kebajikan.”

Ibunda ‘Aisyah, meski sering cemburu pada Ibunda Zainab dan terjadi persaingan antara keduanya, namun tetap adil memuji. Al Mishri (2015:260) mengungkap apa yang disampaikan Ibunda ‘Aisyah, “Di antara istri-istri Nabi, dialah (Zainab) yang menyamai kedudukanku (di mata Rasulullah), hingga Allah menjaganya dengan sifat wara’.”  Ustadz Budi menyampaikan bahwa Zainab adalah sosok yang bekerja dengan keterampilan kedua tangannya. Bahkan bisa bershadaqah dari hasilnya itu,

Ketika memahami ayat perintah menetaplah kalian di rumah kalian. Bukan berarti perempuan tidak boleh punya penghasilan. Zainab bisa menyamak kulit, untuk perkakas, tempat minum, bejana, dll. Zainab juga punya juga kemampuan menenun. Kemudian bershadaqah dari hasil pekerjaannya itu. Dalam sebuah riwayat disebutkan juga bisa jualan minyak wangi. Ini menunjukkan mereka punya banyak aktivitas. Tapi mereka faham betul bahwa tugas mereka adalah mengurus rumah tangga, mengurus Rasulullah.”

Satu hal yang kerap terlupa oleh para istri adalah bahwa mendampingi suami itu aktivitas yang besar. Karena penting, Rasul biasa mengundi siapa istrinya yang akan ikut mendampingi ke medan jihad. Maka yang selanjutnya akan kita bahas adalah Ibunda ‘Aisyah. Perempuan yang paling Rasulullah cintai. Ibunda ‘Aisyah pernah mengutarakan, “aku harus membayar qadha (utang puasa)ku saat Sya’ban atau mendekati Ramadhan, karena kesibukanku mendampingi dan melayani Rasulullah.” Hal ini memperlihatkan pada kita betapa pentingnya mengurus suami.

Ibunda ‘Aisyah memiliki lifeskill luar biasa. Ketika Rasul wafat beliau memiliki keahlian yang jarang dimiliki oleh orang lain.

Keahlian pertamanya adalah sebagai seorang guru. Dr. Adnan Baharits menyatakan profesi guru adalah profesi yang paling dekat dengan fitrah perempuan. Karena bertemu dengan anak-anak sehingga memicu terpancarnya kelembutan dan kasih sayang. Ibunda ‘Aisyah adalah sumber ilmu, perempuan paling cerdas di zamannya. Mendapat ilmu dari ayahnya berupa keahlian dalam ilmu Nasab. Salah satu hal sangat penting dalam Islam. Banyak para sahabat Rasul yang belajar darinya.

Kemudian Ibunda ‘Aisyah memiliki kecerdasan bersyair. Syair merupakan kemampuan komunikasi paling utama saat itu. Syair adalah media, bisa menggerakkan masyarakat untuk marah, untuk senang, dsb. Ibunda ‘Aisyah sangat pandai bersyair.

Selanjutnya adalah ilmu pengobatan. Keponakannya, Urwah bin Zubair bertanya kepadanya, “Kalau bunda ahli hadits aku tidak heran, karena kau adalah istri tercinta Rasulullah. Jika bunda ahli syair dan nasab akupun tidak heran, karena kau anak Abu Bakar. Tapi dari mana bunda tahu tentang pengobatan?” Ternyata ketika Rasul sakit banyak pakar pengobatan yang datang untuk memberikan obat dan ramuan, mereka banyak memberikan saran pada ibunda ‘Aisyah.

Saat ini dunia kesehatan sangat penting untuk diisi oleh perempuan. Betapa banyak kondisi ketika ingin berobat tapi hanya ada ahli pengobatan laki-laki. Ustadz Budi mengajak kita untuk mewakafkan putri-putri kita agar mengisi wilayah-wilayah yang masih darurat, seperti dunia kesehatan dan pengobatan.

Sampai kapan hidup ini darurat? Apalagi jika ternyata ruang-ruang itu tidak benar-benar darurat? Apakah kita akan ridha kalau zaman ini akan terus disebut kondisi darurat? Arahkan ke wilayah perempuan. Jangan sampai tumpang tindih. Islam sudah mengatur.

Inilah profesi istri-itri Rasulullah: pedagang, penyamak kulit, penenun, guru, dan tenaga kesehatan. Ummahatul mukminin telah memberikan teladan: melakukan semua profesi itu dari rumah, tanpa mengurangi tugas utamanya sebagai istri dan ibu rumah tangga.

Sudahkah kita meneladani perempuan-perempuan istimewa para penghuni Jannah? Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk bersabar dan bersyukur untuk berkarya tanpa harus meninggalkan rumah.

Referensi:

Ceramah Ustadz Budi Ashari, Lc, Profesi Istri-Istri Rasulullah dalam program Khalifah Trans 7.

https://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel–keluarga/ibu-parenting/276-mengapa-berat-hati-berkarya-dari-rumah

baznas60x468

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan