rqm 60x648

Benarkah Jilbab tidak Berhubungan dengan Pelecehan Seksual?

 Keluarga Sakinah
baznas60x468

MuslimahJanganLelet-2ylng4vfbo40eucww1okqoOleh:Septian Cahyo Putro*)

Tulisan ini adalah respons saya terhadap tulisan dari seorang Professor (sebut saja X) yang menulis bahwa jilbab tidak berhubungan kasus perkosaan dan pelecehan seksual. Dalam tulisannya, ia mengungkapkan data-data yang menunjukkan bahwa di negara-negara barat (misal: Swedia, Norwegia, Denmark) tingkat perkosaan dan pelecehan seksual lebih rendah ketimbang di negara-negara Muslim seperti Mesir, Irak, Suriah, Afganistan, Arab Saudi dan lain-lain. Lembaga yang menyajikan data-data itu adalah The WomanStats Project.

Dalam tradisi ilmiah, data harus dilawan dengan data. Maka saya pun punya data yang tidak kalah mencengangkan. Saya coba menelusuri melalui mesin pencari Google dengan kata kunci ‘negara dengan tingkat perkosaan tertinggi di dunia’. Saya terkejut, ternyata dari semua negara mayoritas Muslim yang disebutkan oleh Prof X, tidak satupun berada dalam sepuluh besar dengan tingkat perkosaan tertinggi di dunia. Berikut perinciannya, informasi lengkapnya dapat Anda baca di Republika Online.

Negara yang menempati posisi satu di dunia dalam masalah perkosaan adalah Amerika Serikat. Menurut Survei Nasional kekerasan terhadap wanita, 1 dari 6 perempuan AS dan 1 dari 33 pria AS telah mengalami percobaan perkosaan dalam hidup mereka. Posisi kedua ditempati oleh negara Afrika Selatan dengan 65 ribu kasus perkosaan dan kekerasan seksual lainnya tahun 2012. Survei yang diterbitkan oleh MRC (Medical Research Council) menunjukkan bahwa 25 persen pria Afrika Selatan mengakui telah melakukan pemerkosaan.

Peringkat ketiga ditempati oleh Swedia. Menurut sebuah studi Uni Eropa pada 2009, Swedia menduduki posisi perkosaan tingkat tertinggi yang dilaporkan di Eropa. Peringkat keempat adalah India. Menurut Biro Nasional Crime Record terjadi 24.923 kasus perkosaan yang dilaporkan pada 2012. Para ahli bahkan sepakat jumlah kasus yang tidak dilaporkan lebih tinggi lagi.

Peringkat kelima dan keenam ditempati oleh Inggris dan Jerman. Negara yang diagung-agungkan dengan kemajuan teknologi dan pendidikannya ternyata bergerak mundur dalam hal kemanusiaan. Selanjutnya, peringkat ketujuh dan kedelapan ditempati oleh Perancis dan Kanada. Di Perancis, perkosaan bukan dianggap sebuah kejahatan hingga tahun 1980. Mungkin, slogan liberte (kebebasan) bagi negara itu, berlaku bagi kebebasan penduduknya mengambil keperawanan orang lain. Studi pemerintah menunjukkan ada 75 ribu kasus pemerkosaan di negara itu dan hanya 10 persen yang mengajukan laporan. Sementara di Kanada, menurut Justice Institute of British Columbia, satu dari setiap 17 wanita diperkosa. Terakhir, peringkat kesembilan dan kesepuluh adalah Sri Lanka dan Etiopia.

Dari data ini saja, kita bisa simpulkan 7 dari 10 negara dengan tingkat perkosaan tertinggi di dunia didominasi oleh negara Barat (mayoritas penduduk non-muslim) yang tentunya tidak pernah mewajibkan/menganjurkan jilbab bagi penduduk wanitanya. Bahkan, di beberapa negara Barat tersebut ada yang melarang penggunaan jilbab.

Pertanyaan saya, mengapa Professor X, tidak mengemukakan keberadaan data di atas? Sebaliknya, justru malah memojokkan negara-negara Muslim sebagai negara dengan kekerasan seksual tinggi? Baiklah, mari ber-huznuzan bahwa Professor ini belum mengenal penggunaan mesin pencari macam Google. Bahkan dalam tulisannya, ia menyatakan, bahwa pelaku perkosaan di Swedia, Norwegia, dan Denmark diduga adalah imigran Muslim Timur Tengah yang belakangan membanjiri Eropa karena konflik di negaranya. Ia tidak menyebutkan darimana sumber data ini, sebagai seorang Professor menulis berdasarkan data seharusnya dijadikan syarat mutlak.

Melalui data dan argumentasi yang ia kemukakan Professor X tampaknya ingin sekali mengatakan bahwa jilbab bukanlah alasan bebas dari perkosaan. Bahkan, ia tegaskan dalam bagian akhir tulisannya, “Perkosaan itu bukan karena tubuh perempuan yang telanjang, melainkan karena otak laki-laki yang kotor-njetor.” Baiklah, logikanya begini, jika semua wanita di dunia ini telanjang, apakah yakin mereka akan aman-aman saja? Jika semua wanita telanjang, apakah yakin manusia tidak akan berubah seperti binatang?

Sebuah cerita mengenaskan disampaikan oleh Ahmad Deedat—seorang ahli Kristologi dan Islam—pada salah satu ceramahnya. Ia mengatakan, bahwa di Perancis ada perempuan yang diperkosa siang hari secara beramai-ramai di jalanan namun orang-orang cuma menonton dan hanya berkata, “mungkin mereka sedang bersenang-senang.” Dapatkah Anda bayangkan, betapa mengerikannya peristiwa ini? Ketika wanita tak lagi mendapat pembelaan dan perlindungan atas keseuciannya. Bahkan, terjadi di negara yang berslogan egalite (persamaan), tapi nyatanya rasa aman tak terpenuhi bagi warganya.

Saya tidak ingin mengatakan wanita sebagai sumber kekerasan seksual. Tapi ketahuilah, laki-laki diciptakan sesuai fitrahnya untuk tertarik pada wanita. Allah menentukan bahwa tidak ada yang lebih menarik di dunia bagi laki-laki ‘normal’ selain wanita. Perhatikan ayat berikut ini. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Ali Imran: 14).

Jadi, jika wanita mengenakan busana seksi dan berjalan di hadapan laki-laki, tentu gairah mereka akan berkecamuk. Lalu, bagi mereka yang lemah imannya, bisa terjerumus menuruti syahwat mereka. Padahal, Allah dengan tegas memerintahkan kepada laki-laki beriman agar menjaga pandangan dan kemaluannya.

Hijab adalah kesederhanaan. Hijab adalah perintah Allah, bukan hanya untuk wanita muslim saja, tapi juga perintahnya sejak umat Yahudi dan Nasrani eksis di dunia. Injil dalam Korintus 11: 6 menyatakan, “…wanita harus menutupi kepalanya, jika wanita tidak mau menutupi kepalanya, cukurlah rambut mereka.” Maka, tidak heran pernah muncul berita tentang umat Kristiani dan Yahudi yang mengenakan hijab dan menghebohkan netizen—terutama Muslim—yang tidak mengerti.

Wanita yang mengenakan hijab dijamin oleh Allah keamanannya. Seperti dalam ayat berikut: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-Ahzab: 59)

Allah SWT telah menjamin keamanan bagi wanita yang mengenakan hijab. Maka, saya bisa menyimpulkan sebuah kemungkinan bahwa tulisan argumentatif Professor X tentang jilbab dan perkosaan merupakan sebuah usaha memfalsifikasi Alquran. Kemungkinan lain, karena bapak Professor ini tidak benar-benar membaca dan menghayati Alquran, meski ia seorang dosen di universitas terkemuka di Arab Saudi.

Namun, perlu juga digarisbawahi bahwa hijab yang dimaksud Alquran adalah hijab yang tidak mengundang perhatian dan kegemasan kaum laki-laki, seperti yang saat ini banyak digunakan oleh Muslimah masa kini. Fungsi hijab adalah tabir pembatas pandangan laki-laki, bukan untuk memikat mata lelaki. Alquran telah merinci bagaimana seharusnya penggunaan hijab yaitu menjulurkan ke seluruh tubuh sesuai ayat yang telah disebutkan di atas maupun dalam ayat berikut: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya…”. (An-Nur: 31)

Sebuah percobaan sederhana pernah dilakukan di sebuah mal di Rusia dan ditayangkan Cheburussia TV. Percobaan ini ingin menguji apa yang terjadi pada wanita berhijab dan tidak berhijab jika mereka diganggu oleh laki-laki. Sungguh mengejutkan, dalam video berdurasi 3 menit 42 detik tersebut, tidak ada seorang pun yang membela wanita tak berhijab yang diganggu laki-laki, orang-orang hanya menonton dan berlalu. Dari 18 orang yang melihat, tidak ada satu pun yang membela wanita ini. Sementara ketika wanita berhijab diganggu, dari 10 orang yang melihat, 10 orang tersebut ikut membela wanita.

Hijab bukanlah bentuk penindasan. Wanita-wanita yang beriman sudah tentu harus percaya bahwa hijab adalah sumber keamanan bagi dirinya, sebagaimana janji Allah SWT. Dan tentunya, hijab bukanlah alat untuk menarik perhatian laki-laki! Perbaiki hijabmu agar Allah semakin menjagamu! Terakhir saya ingin mengutip perkataan Dr. Zakir Naik, “Jika pakaian terbuka dianggap sebagai kemajuan zaman, maka hewan jelas lebih maju dari manusia.”

*) Mahasiswa Pascasarjana FIB UI

 

sumber: republika

baznas60x468

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan