rqm 60x648

Berbeda Antara Ibadah dan Kebiasaan

 Tausiyah
baznas60x468
ilustrasi

ilustrasi

SEBAGAI agama yang haq di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, Islam mencakup semua aspek kehidupan seorang hamba. Tak ada satu pun agama selain Islam yang memiliki kecakupan menyeluruh sebaik Islam.

Dalam Islam, urusan kamar mandi hingga mengatur pemerintahan ada tuntunanya. Dimana lagi kita akan mendapati panduan hidup yang lebih lengkap selain dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebagai Muslim, kita meyakini bahwa aturan Islam ini bukan untuk membelenggu. Tapi justru menuntun setiap Muslim, pada jalan hidup yang paling baik dan benar.

Tujuan diciptakanya manusia dan jin adalah untuk beribadah. Bahkan setiap agama pasti memiliki tuntunan ibadahnya masing-masing. Dan setiap dakwah para Rasul pasti membawa tema ini. Yakni agar manusia kembali pada peribadatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala semata.

Makna ibadah dalam Islam, sebagaimana disebutkan dalam kitab at-Tauhid karangan Dr Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan adalah:

أِسْمٌ جَامِعْ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَ يَرْضَاهُ مِنَ الأَقْوَالِ وَالأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ والبَاطِنَةِ                 “Isim jami’ untuk setiap apa yang disukai Allah dan diridhoiNya dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan, baik yang nampak maupun yang batin” 

Ibadah terbagi menjadi dua yakni ibadah Mahdhah dan Ghairu Mahdhah. Ibadah Mahdhahdibagi lagi menjadi dua. Pertama adalah ibadah Mahdhah Muqayyad yakni ibadah murni yang bersifat Tauqify, atau kaifiyah (tata cara)nya ditentukan oleh syari’at. Mulai dari waktu, tempat, jumlah dan detail pelaksanaanya. Yang kedua adalah ibadah Mahdhah Muthlaq, yakni ibadah murni yang bersumber dari dalil akan tetapi tidak dijelaskan kaifiyah-nya. Semisal membaca Al-Qur’an dan berdzikir. Sedangkan ibadah Ghairu Mahdhah adalah setiap perbuatan yang asal hukumnya mubah, tapi dapat bernilai ibadah.

Masyarakat awam sering menganggap bahwa ibadah dalam Islam cuma terbatas pada ibadahmahdhah saja. Padahal dalam Islam juga terdapat ibadah Ghairu Mahdhah. Setiap tindakan kita yang mendatangkan kesukaan dan ridha Allah, maka ia adalah ibadah.

Maka sejatinya berislam ini amatlah memudahkan. Allah Subhanahu Wata’ala sendiri menjaminkan kemudahan dan kesanggupan bagi hamba-hambanya. Karena dalam Islam, setiap perbuatan bisa bernilai ibadah dan mengundang pahala di sisi Allah Subhanahu Wata’ala.

Seandainya seorang muslim mau menyadari, maka sesungguhnya peluang pahala dalam hidup ini amatlah banyak.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak aktivitas yang kita lakukan. Mulai dari tidur, makan, sekolah, kerja, hingga ke kamar mandi. Lalu apa yang bisa membuat aktivitas-aktivitas ini bernilai ibadah. Atau dengan kata lain, bagaimana aktivitas-aktivitas ini bisa mendatangkan kesukaan dan ridha dari Allah Subhanahu Wata’ala. Jawabanya adalah ‘niat’.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

أِنَّمَا الأَعْمَالُ بِاالنِّيَاتِ و أِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya, dan setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.”

Niat menurut terminologi adalah tekad untuk melakukan suatu ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah. Niat inilah yang menjadi penentu dari nilai sebuah perbuatan dan ganjaran yang akan diberikan. Dua orang yang sama-sama makan bisa berbeda ganjaranya. Yang satu makan karena lapar, maka ia hanya akan mendapatkan kenyang. Sedang yang satu makan untuk menjalankan perintah Allah dalam firmanNya:

وَ كُلُواْ وَاشْرَبُواْ

“Makan dan minumlah.” (QS: Al-A’raf : 31)

Maka ia bernilai ibadah dan mendapat pahala.

Aktivitas sehari-hari seringkali kita lakukan begitu saja tanpa ada niatan apapun. Sehinga yang ada hanyalah kebiasaan tanpa ada nilai lebih di dalamnya. Seandainya kita membawa niat dan kesadaran dalam setiap aktivitas kita, sebagai ibadah dan mengharap kesukaan dan ridha Allah Subhanahu Wata’ala, tentu  limpahan pahala akan membanjiri kita.

Seorang ulama pernah mengatakan,  “ Ibadah orang yang lengah adalah kebiasaan, dan kebiasaan orang yang sadar adalah Ibadah.”

Begitulah manusia yang hidup di dunia ini. Mereka yang lengah bisa jadi membuat ibadah mereka menjadi sekedar kebiasaan. Karena alpanya niat yang benar dan kesadaran. Sedang mereka yang sadar akan menjadikan kebiasaan mereka bernilai ibadah. Dengan niat mengharap kesukaan dan ridha Allah Subhanahu Wata’ala.

Maka selayaknya kita mulai mejadi muslim-muslim yang sadar, dengan mulai menata kebiasaan kita dalam niat yang baik dan kesadaran yang benar.

Kehidupan manusia dikontrol oleh kebiasaanya. Maka kita perlu melihat apakah kebiasaan kita sudah mendatangkan ridha dari Allah Subhanahu Wata’ala atau belum.

Menjadikan sebuah perbuatan menjadi kebiasaan membutuhkan proses. Apalagi bila ia berupa kebaikan, maka biasanya ia membutuhkan usaha yang seringkali tidak mudah. Dan merubah kebiasaan juga membutuhkan usaha yang kadang bahkan lebih sukar. Jadikan kebiasaan kita bernilai ibadah dan jangan sampai ibadah kita menjadi sekedar kebiasaan. Yakni dengan senantiasa membawa niat dan kesadaran mengharap ridha Allah Subhanahu Wata’ala semata. Wallahu a’lam bi shawab.*

Penulis adalah santri Pengabdian di Hidayatullah Sleman Oleh: Fida’ Ahmad Syuhada

sumber: hidayatullah.com

baznas60x468

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan