rqm 60x648

Kasus Pembunuhan Antar Siswa SMP Bukti Semakin Rusaknya Generasi Muda

 Keluarga Sakinah
baznas60x468

generasi-mudasOleh: Fatimah Azzahra, S.Pd

AKHIR Agustus kemarin, kota Bandung dibuat geger karena adanya kasus pembunuhan siswi SMP kelas IX (15 tahun) oleh siswa kelas VII (13 tahun). Proses pembunuhan terjadi di siang bolong di pematang sawah. Seorang saksi mata menyampaikan, sebelum ditemukan, korban terlihat sedang cekcok dengan tersangka. Kemudian, kepala korban dipukul menggunakan palu oleh tersangka hingga tewas. Tersangka ditangkap 30 menit setelah kejadian. Dari TKP, polisi mengamankan barang bukti diantaranya berupa palu dan HP tersangka.

Menurut analisis berbagai pihak, pembunuhan ini terjadi karena tersangka cemburu dan juga keinginannya untuk memiliki HP Android milik korban. Apapun motifnya, pembunuhan sadis ini sangat mengerikan. Seorang remaja dengan tega membunuh remaja putri pada siang hari dan di tempat terbuka. Peristiwa ini merupakan tamparan salah satunya bagi dunia pendidikan. Pendidikan formal yang diemban ternyata belum mampu untuk membentuk karakter yang baik dan positif. Pendidikan dari keluarga pun dipertanyakan. Bagaimana peran keluarga dalam membina putra putrinya menjadi pribadi yang shaleh-shaleha? Peran lingkungan tempat beraktifitasnya pun tidak bisa diremehkan pengaruhnya. Sebaik apapun pendidikan di rumah, jika lingkungannya tidak baik, maka anak bisa terseret ke dalam keburukan. Lingkungan materialistis seperti sekarang misalnya akan mengkondisikan anak menginginkan materi, baik uang, gadget, peralatan sekolah dan barang lainnya yang mewah. Karena materialisme membuat orang menghargai orang lain karena kepemilikannya terhadap materi. Wajar jika rasa minder menghampiri orang-orang yang tidak bisa memiliki barang-barang yang mewah.

Pendidikan anak merupakan tanggung jawab keluarga, lingkungan, dan juga negara. Keluarga sebagai lingkungan pembelajaran pertama dan utama harusnya mengkondisikan keimanan anak semenjak kecil. Penguatan pondasi keimanan terus dilakukan oleh keluarga. Diingatkan akan keberadaan Allah SWT sebagai Maha Pencipta, Maha Pengatur; akan adanya hari Pembalasan, akan adanya surga dan neraka. Sekolah pun tidak hanya mengejar target kelulusan dengan nilai kognitif semata, tapi juga bertarget membentuk kepribadian yang diridhai Allah SWT. Membentuk pribadi-pribadi yang taat kepada Allah kapanpun dan dimanapun, baik sedang sepi ataupun ramai. Lingkungan bermain haruslah mendukung dalam penjagaan keimanan. Hendaknya aktif dalam kegiatan yang menjadi nilai lebih di hadapan Allah. Melakukan berbagai amal shaleh yang tentunya ada di lingkungan yang baik. Negara pun berkewajiban menciptakan kondisi keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat yang taat pada Allah SWT yaitu dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang mendukung. Misalnya, mengadakan kajian rutin parenting untuk keluarga, membuat kurikulum yang bisa memupuk keimanan anak, dan menghasilkan kepribadian yang diridhai Allah, melarang semua bentuk tontonan, gambar, pemahaman  yang bisa merusak kepribadian anak. Misalnya materialisme, liberalisme, sekulerisme, dan lainnya.

Sayangnya, paham-paham berbahaya seperti materialisme, liberalisme, sekulerisme yang membuat orang bisa berlaku seenaknya tanpa pertimbangan keimanan adalah paham bawaan dari sistem yang diterapkan oleh hampir seluruh negeri, termasuk Indonesia, yaitu sistem Kapitalisme. Maka, jika kita benar ingin membentuk pribadi-pribadi yang diridhai oleh Allah, haruslah menerapkan sistem yang diridhai oleh Allah SWT, yaitu Islam. Yang sudah terbukti kegemilangannya selama 13 abad. Sudah saatnya kita campakkan sistem Kapitalisme yang merusak ini, dan ganti dengan sistem Islam yang diterapkan secara kaffah dalam bingkai Khilafah dengan metode kenabian. Waallahu’alam [Islampos]

baznas60x468

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan